ABU & Co dan Energy Terbarukan ( WTE )

Setiap hari di Indonesia, masyarakat kita memproduki 175,000 Ton per hari dan Tangerang Selatan sendiri menyumbang hamper 1,000 ton dalam akumulasi tersebut. Tidak bisa dipungkiri dan sudah menjadi rahasia umum bahwa sampah yang dihasilkan tersebut, pada akhirnya akan dibuang begitu saja di TPA secara Open dumping.
Label botol berbahan plastik & Bungkus Sachet, Salah satu bahan RDF

Walaupun ada upaya dari pemerintah agar terjadinya reduksi volume sampah, kenyataannya mayoritas sampah tersebut masih berakhir secara tidak teratur di TPA yang notabenenya banyak yang sudah Full atau bahkan Over Capacity. Sampah yang terbuang di TPA open dumping berarti hilang dan putusnya rantai Circular Economy, menabah resiko pencemaran udara, tanah, air dan visual, dan naiknya Stunting diwilayah yang tercemar.

Mengikuti paradigma Berpikir Global, beraksi di Lokal ( Think Global Act Local ), Abu & CO melakukan berbagai upaya dalam tercapainya pelaksanaan konsep-konsep lingkungan dan persampahan yaitu Zero Waste dan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Dua konsep ini menjadi frame kerja utama Abu & Co dalam melaksanakan pengelolaan sampah. Abu & Co juga mensupport dan berkerjasama dengan pengiat usaha lainnya yang bersingungan dengan material yang berasal dari sampah agar rantai Circular Economy yang ada di masyarakat tetap terjaga

WPCC MUSAYAMA sedang melakukan pemusnahan residu
Dengan mengunakan sampah yang tidak bisa diproses lagi dari tahap 3R sebagai potensi sumber energi dan disering disebut sebagai energi sampah terbarukan atau WTE (Waste To Energy), adalah salah satu cara dari mengurangi beban lingkungan dan TPA.

Abu & Co mengimplenentasikan metode diatas dan menerapkannya di format RDF ( Refused Derived Fuel) dan SRF (Solid Recovered Fuel) sebagai media energi sampah terbarukan / WTE dan mengunakan konsep Waste Pyrolisis Cycling Combustion yaitu kombinasi konsep pemprosesan Thermal yaitu Pyrolisis dan Combustion dimana proses pyrolysis mengunakan panas dari combustion dan panas combustion terus dimaintain oleh proses pyrolysis.

Dimana RDF sendiri adalah berupa bahan bakar alternatif yang komposisinya terbuat dari bahan sampah rumah tangga dan sampah lain yang mudah terbakar, baik organik maupun anorganik, sedangkan SRF (Solid Recovered Fuel) merupakan RDF yang bahan dasarnya di pilih, dibentuk dan di proses sedemikian rupa (dicacah, dikeringkan, dand sebagainya ) untuk mengikuti spesifikasi dari permintaan pasar. Konsep WPCC di wujudkan oleh kami dalam bentuk reactor yang kami beri nama MUSAYAMA (musnah sampah kaya manfaat).
Briket RDF - organik mix


MUSAYAMA

Sebuah reactor pengelolaan yang kami kembangkan dengan pendekatan yang mencerminkan kondisi yang diinginkan oleh pengelola persampahan dilapangan yaitu Beroperasi tanpa BBM, terus berkerja 24 jam / 7 hari, mudah digunakan, dan dapat beroperasi di tempat minim listrik. Video tentang dilihat di sebelah sini.

RDF dan SRF

Dengan mengunakan sisa sampah organik, anorganik dan residu yang tidak dapat di proses dalam tahap 3R, RDF dan SRF di proses sedemikian rupa sehingga mudah disimpan, packing dan digunakan serta tidak mengeluarkan aroma yang tidak mengenakan.